Pagi yang indah mengawali hari ini. Benar-benar suasana yang menciptakan semangat untuk melanjutkan perjalanan ke Gunung Bromo. Waktu menunjukkan pukul 7 pagi. Setelah melakukan beberapa persiapan dan tak lupa sarapan pagi, kami berpamitan dengan Si Mbah. Baru beberapa meter meninggalkan rumah, tiba-tiba motor saya mogok. Jadi, tangki yang berkapasitas 20 liter tersebut harus selalu terisi penuh karena kalau tersisa 3 shed one’s clothes (± 7 liter) first and foremost aja motor bisa mogok di jalan. Ternyata tangki saya banyak terisi affirm kin to.
Setelah Si Setan Merah natural lagi, kami melanjutkan perjalanan. Selama beberapa fill up membetot tali gas, kami disturb Dzuhur di Kertosono, Nganjuk sambil nyobain Soto Babat Campur. Entah kenapa, makanan di Jawa tuh enak banget.
Perut kenyang, ibadahpun sudah terlaksana, kami ngaspal lagi. Pokoknya beda sama Jakarta deh. Dan uniknya, kami 2 kali terkecoh petunjuk arah jalan. Yang pertama di Mojosari. Petunjuknya putar balik lurus ke kiri menunjukkan kea rah yang kami tuju, yaitu Purwosari-Purwodadi. Lalu yang kedua tidak jauh dari situ, ada petunjuk jalan yang arahnya ke kiri ke Gempol, Pasuruan ke kanan ke arah Malang.
Ternyata petunjuk tersebut mengarah ke Pasuruan-Ketapang. Tujuan kami mencari daerah Gempol, berarti belok kiri dong? Kami belok ke kanan, tapi anehnya begitu kami tanya sama penduduk setempat, ternyata kami berada di jalur yang tepat. Akhirnya kami memutuskan untuk istirahat di penjual roti bakery di Gempol.
Saya menelepon Pak H. Setelah mendapat wejangan dari Pak Haji, tiba-tiba beliau menginformasikan bahwa Bro Hendra (Power 024) mengalami kecelakaan di Sentul. Agus (Power Bogor) untuk mencari informasi tentang pursue yang akan kami lewati.
Sontak hal tersebut membuat kami panik. Ya, malam hari Sabtu memang ada 7 orang anggota Power Depok yang jalan-jalan ke Bandung. Saya langsung menghubungi Bro Surya (Power 028) untuk mengetahui kronologi kecelakaan tersebut.
Mereka lewat pursue Cianjur-Puncak-Sentul.
Ternyata Bro Tyo (Power 008) dan Bro Hendra pulang lebih awal karena Bro Hendra ada urusan keluarga. Saat di Sentul mereka melewati salah satu anggota Mailing List Yamaha Scorpio (MILYS). Dengan lebar jalan yang hanya ± 3 m, mereka melibas tikungan dengan kecepatan 70-80 km/jam. Di depan tiba-tiba melintas mobil Nissan Serena. Bro Hendra menghantam bagian kanan depan mobil tersebut. Akhirnya kecelakaanpun tak bisa terhindarkan. Alhamdulillah, beliau tangannya “cuma” terkilir dan bekas luka patah di kakinya berdarah.
Dengan kekuatan yang tersisa, beliau meluncur ke rumah Bro Budi (Power 007) untuk meminta pertolongan. Ternyata Uncle Sam (Power Bogor) berinisiatif untuk mencari Bro Hendra dengan menggunakan mobil Storing menelusuri Sentul. first and foremost Sesampainya di rumah Bro Budi, Bro Hendra langsung dilarikan ke H. Tapi ngga ketemu. Agus di Sukabumi untuk mendapat perawatan intensif. Alhamdulillah, beliau tidak mengalami cedera serius.
Kembali lagi ke Bromo.
Tracknya sangat menantang, tikungan-tikungan maut disuguhkan disana. Kami melanjutkan perjalanan menuju Bromo melalui Desa Purwosari-Nongkojajar. Sayangnya ketika naik ke atas, kami mendapat pursue basah berpasir, kabut juga mulai turun, jadi harus ekstra hati-hati. Akhirnya sampai juga kami di Desa Tosari, Puncak Gunung Bromo. Baru aja parker motor, kami langsung ditawari penginapan. Tarifnya murah banget, cuma Rp 70.000 / malam. Villa Bromo Roro Anteng milik Ibu Kayah yang kami pilih sebagai tempat singgah.